Detak Kompak News
BANGKA — Kedekatan wakil rakyat dengan masyarakat tidak selalu harus berlangsung di ruang formal. Bagi Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Sekretaris DPD PDI Perjuangan Babel, Imam Wahyudi, hadir langsung di tengah masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai wakil rakyat.
Hal itu terlihat saat Imam Wahyudi menyambangi usaha pangkas rambut milik Kang Uday, seorang penyandang disabilitas, di kawasan Pasar Sungailiat, Bangka, Minggu (23/8/2026).
Kunjungan berlangsung sederhana dan penuh kehangatan. Imam mengaku tersentuh melihat semangat Kang Uday yang tetap bekerja keras di tengah keterbatasan fisik demi memenuhi kebutuhan keluarga dan masa depan anak-anaknya.
Dari usaha pangkas rambut sederhana tersebut, Kang Uday bahkan mampu membiayai pendidikan anak-anaknya hingga sebagian berhasil meraih gelar sarjana.
“Saya sangat mengapresiasi perjuangan Kang Uday. Di tengah keterbatasan fisik, beliau tetap bekerja, berusaha dan memikirkan masa depan keluarga. Ini sebuah keteladanan,” ujar Imam Wahyudi.
Dalam kesempatan itu, Imam juga berbincang bersama sejumlah teman sesama penyandang disabilitas, di antaranya Husni, Zumarsah dan Ari atau Ucok. Suasana pertemuan berlangsung cair dan penuh kekeluargaan.
Imam menegaskan, seorang wakil rakyat tidak boleh menciptakan jarak dengan masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi.
“Filosofi saya sederhana, tidak boleh ada batas antara wakil rakyat dengan wong cilik. Kursi dewan bukan untuk menjauh dari masyarakat, tetapi menjadi amanah untuk semakin dekat, mendengar, memahami dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Imam, penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang, berusaha serta memperoleh kehidupan yang layak. Karena itu, pemerintah dan pemangku kebijakan harus membuka ruang yang lebih luas bagi mereka.
“Jangan melihat mereka dari keterbatasannya, tetapi lihat semangat dan kemampuan mereka. Tugas kita memastikan mereka tidak merasa berjalan sendirian,” katanya.
Ditutup dengan Makan Bersama
Silaturahmi tersebut kemudian ditutup dengan makan siang bersama. Imam Wahyudi mengajak Kang Uday, rekan-rekan penyandang disabilitas dan timnya duduk bersama menikmati makan sederhana sambil melanjutkan perbincangan.
Bagi Imam, momen tersebut menjadi simbol bahwa hubungan wakil rakyat dengan masyarakat tidak seharusnya dibatasi status maupun jabatan.
“Kalau ingin benar-benar memahami masyarakat, jangan hanya bertemu di ruang rapat. Datang ke tempat mereka, duduk bersama, makan bersama dan dengarkan ceritanya,” ujarnya.
Kang Uday: Ini Bentuk Kemerdekaan bagi Kami
Sementara itu, Kang Uday menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kunjungan Imam Wahyudi ke tempat usahanya.
Menurutnya, kehadiran seorang anggota dewan yang bersedia datang, mendengarkan dan membuka komunikasi dengan kaum penyandang disabilitas menjadi sesuatu yang sangat berarti.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kunjungan Bapak Imam Wahyudi beserta jajarannya ke tempat usaha saya,” ujar Kang Uday.
Ia mengatakan Imam Wahyudi juga menyampaikan keinginan untuk mengunjungi tempat usaha rekan-rekan penyandang disabilitas lainnya serta membuka ruang komunikasi dengan Komunitas Sahabat Disabel Kabupaten Bangka.
“Saya dan kawan-kawan merasa tersanjung dan terharu. Ada anggota dewan yang mau membantu dan mendukung kami ke depannya. Ini sesuatu yang sangat baik bagi kami,” ungkapnya.
Kang Uday berharap perhatian tersebut dapat menjadi awal hubungan yang lebih kuat antara komunitas penyandang disabilitas dengan wakil rakyat.
“Di hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 ini, kami bangga bisa bertemu dan dikunjungi Bapak Imam Wahyudi. Bagi kami, ini suatu kemerdekaan dan kemenangan,” ucapnya.
Kunjungan tersebut memperlihatkan wajah politik yang lebih dekat dan manusiawi. Di sebuah tempat pangkas rambut sederhana di Pasar Sungailiat, pertemuan antara wakil rakyat dan masyarakat menjadi ruang untuk mendengar, berbagi cerita dan membangun harapan.
Bagi Imam Wahyudi, keberpihakan kepada wong cilik bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dengan hadir, mendengar dan berjalan bersama masyarakat, termasuk mereka yang berjuang di tengah keterbatasan.
Red Anasn70
Imam Wahyudi Sambangi Kang Uday, Penyandang Disabilitas yang Sukses Sekolahkan Anak hingga Sarjana






