Detak Kompak News
PANGKALPINANG — Satu abad bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang tentang pendidikan, pengabdian, persaudaraan, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Semangat itulah yang kini terasa di tengah keluarga besar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor.Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang dijadwalkan berlangsung pada 19–20 September 2026 di Kampus Pusat Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, diproyeksikan menjadi salah satu momentum bersejarah yang mempertemukan alumni Gontor dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Kabar mengenai rencana kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto semakin menambah perhatian terhadap perhelatan tersebut. Seabad Gontor pun tidak lagi dipandang semata sebagai seremoni memperingati usia lembaga pendidikan, tetapi menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan pendidikan pesantren sekaligus memperkuat jejaring dan ukhuwah keluarga besar alumni.
Di berbagai daerah, semangat menyambut momentum tersebut mulai terasa. Tak terkecuali di Kepulauan Bangka Belitung, tempat para alumni Gontor selama ini ikut mengambil peran di tengah masyarakat dalam berbagai bidang pengabdian.
Bagi keluarga besar Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor (IKPM) Darussalam Gontor Babel, peringatan satu abad tersebut menjadi momentum untuk kembali menapak jejak almamater sekaligus menyambung tali silaturahmi dengan para alumni dari berbagai penjuru.
Persiapan keberangkatan rombongan alumni Babel menuju Ponorogo pun mulai dilakukan.Koordinasi antarsesama alumni menjadi bagian penting agar kehadiran mereka nantinya tidak hanya menjadi bentuk kecintaan terhadap almamater, tetapi juga menjadi bagian dari kebersamaan keluarga besar Gontor dalam menyambut sejarah satu abad perjalanan pendidikan.
“Ya, kegiatan peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor ini dipastikan membahana dan mendunia, apalagi Presiden RI dikabarkan akan hadir di sana,” ujar Imam Wahyudi,
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus alumni Gontor.
Menurut Imam, momentum satu abad Gontor memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan usia lembaga pendidikan. Bagi alumni, satu abad merupakan kesempatan untuk kembali mengingat nilai-nilai yang pernah ditanamkan selama menempuh pendidikan di Gontor.Nilai tentang kemandirian, kedisiplinan, keikhlasan, kesederhanaan, persaudaraan dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bekal yang terus dibawa para alumni setelah meninggalkan kampus.
“Bagi kami para alumni, Gontor bukan hanya tempat pernah belajar. Ada ikatan batin dan nilai yang terus dibawa dalam kehidupan. Karena itu, ketika almamater memasuki usia satu abad, tentu ada kebanggaan sekaligus rasa haru untuk bisa kembali berkumpul bersama keluarga besar Gontor,” katanya.
Sebagai alumni Gontor, Imam Wahyudi turut menjadi salah satu penggerak dalam persiapan keberangkatan rombongan IKPM Darussalam Gontor Babel yang diketuai Ustadz Edduar.
Kehadiran alumni Babel di Ponorogo nantinya diharapkan menjadi bagian dari catatan perjalanan panjang Gontor. Para alumni tidak hanya datang untuk mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi juga membawa semangat kebersamaan dari Negeri Serumpun Sebalai.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, keberadaan jejaring alumni dinilai menjadi modal sosial yang penting. Para alumni yang tersebar di berbagai profesi dan daerah dapat terus membangun komunikasi, kolaborasi serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.Momentum satu abad juga menjadi ruang refleksi. Setelah melewati perjalanan panjang sejak berdirinya Gontor, tantangan pendidikan ke depan tentu semakin kompleks. Dunia berubah, teknologi berkembang, dan generasi muda menghadapi persoalan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Namun, nilai-nilai dasar pendidikan yang menanamkan keikhlasan, kemandirian, ukhuwah dan pengabdian diyakini tetap relevan untuk menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan tersebut.
Karena itu, peringatan seabad Gontor diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara. Lebih jauh, momentum tersebut dapat menjadi titik temu untuk memperkuat kembali hubungan antara almamater dan alumni, sekaligus mendorong lahirnya kontribusi nyata bagi bangsa dan masyarakat.Bagi alumni Gontor di Bangka Belitung, perjalanan menuju Ponorogo bukan sekadar perjalanan fisik. Ada kenangan, persaudaraan dan rasa memiliki yang turut dibawa.
Seabad Gontor menjadi momentum untuk kembali pulang, bertemu dengan saudara seperjuangan, mengenang masa-masa pendidikan, sekaligus menatap masa depan dengan semangat pengabdian yang sama.
Dari Bangka Belitung, para alumni bersiap menjemput momentum sejarah itu—membawa nama daerah, membawa semangat persaudaraan, dan membawa pesan sederhana bahwa satu abad perjalanan Gontor adalah perjalanan nilai yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Red.
Ketika Gontor Genap Satu Abad, Alumni Babel Bersiap Kembali ke Kampus Perjuangan





