Detak Kompak News
Imam Wahyudi S.I.P, M.H ,Lahir dari sebuah desa kecil nun jauh dari Ibu Kota Provinsi Bangka Belitung, kota Pangkalpinang. Tepatnya di desa Tanah Bawah Kecamatan Puding Besar.
Anak ke- 6 dari 9 bersaudara sudah pasti menempa kerasnya hidup Imam Wahyudi kecil. Ayahnya hanyalah seorang yang berprofesi sebagai seorang guru, profesi yang di juluki Oemar Bakrie pada waktu itu.
Lahir dari keluarga yang besar serta banyaknya tanggungan orang tua Imam. Akan sangat berdampak pada masa kuliah Imam di Palembang nantinya. Seperti anak kampung kebanyakan, main kelereng, mandi di sungai, metet burung sudah menjadi aktivitas sehari-hari.
Sejak kelas 3 SD selepas pulang sekolah, ia tidak sempat menikmati hidup layaknya seperti anak kecil kampung pada waktu itu. Ia harus menjajakan kue dagangan bibinya dari ujung kampung sampai ujung kampung sambil berharap ada yang membeli. Kerasnya kehidupan Imam Wahyudi di masa kecilnya membuat ia kuat, tegar dalam menghadapi hidup nantinya.
Ust Imam wahyudi kini sudah menjelma menjadi tokoh baru pasca berakhirnya kepemimpinan tokoh-tokoh lama di kab. Bangka.
Meniti karier sebagai tenaga ahli Anggota DPR RI Zainun Ahmadi dari Fraksi PDI-P dapil Jatim tahun 2009-2014. Setelah itu tahun 2014-2024 menjadi tenaga ahli Ir. Rudianto Tjen, anggota DPR RI Fraksi PDI-P dapil bangka belitung.
Pengabdian beliau dalam membantu anggota DPR RI Ir. Rudianto tjen sudah tidak di ragukan lagi. Ust Imam wahyudi berperan menjadi penghubung antara masyarakat dan pak rudi. Bukan saja penghubung masyarakat umum saja, kepala daerah dan stakeholder yang lainnya. Hampir di pastikan semuanya melalui Ust Imam Wahyudi.
Setelah menamatkan Sekolah Tsanawiyah di Pondok Pesantren al-Islam Kemuja. Ia pun melanjutkan studi-nya di Pondok Pesantren al-Barokah Kab Nganjuk. Satu tahun kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Tiga tahun tidak terasa selama di pondok gontor, akhirnya Ust Imam menamatkan sekolahnya di pesantren.
Setelah menamatkan pendidikannya di gontor, ust Imam pun sempat mengabdi di pondok dengan menjadi pengajar di gontor selama satu tahun. Setelah itu ia pun meneruskan studi S1 nya di UNSRI Palembang. Layaknya mahasiswa pada umumnya, ust Imam pun mulai mencari kos-kosan untuk di jadikan tempat tinggal selama di tanah rantau.
Namun hal tersebut tidak berlangsung lama di karenakan keterbatasan biaya dan kemampuan orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Akhirnya ust Imam memutuskan untuk tinggal di Pondok Pesantren al-Alamul Khair Palembang. Ust Imam sangat bersyukur dengan keadaannya walaupun penuh dengan keterbatasan.
Mungkin yang ada di benaknya pada saat itu, yang penting dapat tempat tinggal gratis makan gratis juga dapat mengamalkan ilmunya selama di Pondok Modern Gontor dulu. Pagi pergi kuliah sore hari mulai mengajar santri di pondok. Namun keadaan itu tidak menyurutkan untuk menyalurkan bakatnya dalam berorganisasi. Ust Imam aktif sekali dalam organisasi kemahasiswaan. ia pernah menjadi Pengurus BEM “badan eksekutif mahasiswa” Dalam kesibukannya yang begitu padat pada masa itu,
Ia masih menyempatkan diri menjadi wartawan Lintas Timur di Palembang. membuka bimbingan belajar “Terang Benderang” untuk anak-anak sekolah mulai dari tingkat SD sd SMA. Di usianya yang masih tergolong muda tepatnya tahun 2004, ust Imam sudah menjadi dosen di ma’had Izzuddin Palembang. Pekerjaan yang cukup bergengsi di usianya.
Selepas dari palembang, ust Imam pun mulai merantau ke Ibukota Jakarta, mengadu nasib di negeri rantau. . Setibanya di ibukota ust imam mulai membangun jaringan ke berbagai pihak. Ia pun bergabung bersama NGO IPCOS, NGO yang sangat konsen dalam pembahasan otonomi daerah pada masa itu “ Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyuno” . NGO yang didirikan tokoh-tokoh nasional seperti alm sutradara ginting.
Selain di Ipcos, ust Imam pun rajin mengikuti pengajian di ORBIT, organisasi yang di didirikan oleh Prof. DR. Din Syamsuddin. Haus dalam mencari ilmu, ia pun berguru kepada Prof. DR. Husnan Bey Fananie “mantan dubes RI untuk Azerbaijan sekaligus cucu pendiri pondok modern gontor”. Berguru serta berdiskusi bersama Emha Ainun Najib pun sering ia lakukan. Bukan itu saja, pergumulan seorang anak muda yang sangat luar biasa pada zamannya. Mendapatkan tempaan, pelajaran dari guru-guru yang tidak di ragukan lagi kiprahnya bagi bangsa dan negara.
Tahun 2006 berdialog dengan Tokoh-tokoh nasional seperti Hasyim Muzadi, Yudi Latief, Din Syamsuddin, Lukman Hakim Syaifuddin, Hidayat Nur wahid serta Ratna Sarumpaet sudah menjadi hal biasa baginya. Tahun 2007 ia sudah menjadi pengurus BAMUSI “baitul muslimin indonesia” Sayap PDI-Pternyata. ust Imam di percaya menjadi kepala sekretariat PP BAMUSI. Di sela-sela kegiatan dan kesibukannya yang begitu padat ia pun masih menyempatkan diri untuk terlibat aktif dalam Megawati Institute. Ia pun aktif dalam Megawati Institute akhirnya memperkenalkan dirinya kepada Habib Hirzin “salah satu anggota KOMNAS HAM”.
Berbekal ilmu dan pengalaman organisasi yang di gelutinya, ia sudah di percaya untuk bergabung memenangkan Megawati dan KH. Hasyim Muzadi sebagai Capres dan Cawapres pada waktu itu. Tahun 2012 Ia terlibat aktif dalam pemengan Jokowi-Ahok pada kontestasi Pilgub DKI Jakarta. Sebuah prestasi dan pengalaman yang cukup gemilang di negeri orang.
Berpengalaman dalam pemenangan pilpres dan pilkada, lagi-lagi ia di percaya untuk bergabung dalam pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla tahun 2014. Lagi-lagi bersama teman-teman yang lainnya dapat memenangkan pertarungan. Kita tahu 2014 beliau sudah menjadi tenaga ahli anggota DPR RI dapil Bangka Belitung bapak Ir. Rudianto Tjen. Namun di sela-sela kesibukannya sebagai tenaga ahli ia masih menyempatkan diri sebagai dosen di kampus UNSERA Banten tahun 2014-2015.
Berbekal keilmuan yang ia miliki, ust Imam pun ikut berkontribusi ketika di mulainya penulisan buku yang berjudul “ Taufik Kiemas di mata tokoh islam”, yang di terbitkan oleh BAMUSI. Juga buku yang berjudul mereka bicara Mega. Berbekal pernah menjadi santri di pondok pesantren, ust Imam pun di percaya untuk menjadi khatib jum’at di kompleks Senayan DPR/MPR RI.
Banyak hal yang ia dapatkan selama bergelut, bergumul di Ibukota Jakarta. Menimba ilmu, adu gagasan, diskusi bersama tokoh-tokoh nasional, terkait situasi nasional maupun internasional sudah menjadi makanan sehari-hari. Tidak hanya itu saja,
Ust Imam pun sempat bergabung bersama Litbang Metro TV. Salah satu stasiun TV swasta cukup besar dan terpercaya khususnya kajian maupun pemberitaan hiruk pikuk keadaan nasional maupun internasional. Imam Wahyudi anak kampung yang telah menamatkan studi S2 nya di UNDARIS Semarang. Berniat ingin melanjutkan studi-nya untuk mengambil gelar Doktor (S3). Pencapaian akhir akademik sebelum akhirnya bergelar Professor.
Sungguh niat dan tekad yang kuat untuk menyempurnakan ilmu akademiknya. Berlatar belakang dari dunia pesantren, selain mengabdi sebagai anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung. Ust Imam juga merupakan Pimpinan Pondok Pesantren as-Syifa desa Tanah Bawah kecamatan Puding Besar. Kepercayaan yang di berikan Ir. Rudianto Tjen kepada dirinya begitu besar.
Selain menjabat sebagai tenaga ahli, ust Imam pun di berikan kepercayaan memegang amanah sebagai Direktur Rudi Center. Rudi Center seperti yang kita ketahui sangat aktif dalam melayani kesehatan masyarakat. Mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis, sampai program kerjanya yang paling terkenal di masyarakat Bangka Belitung yaitu operasi katarak gratis.
Memulai debut Bersama Ir. Rudianto Tjen ia mengasah, mengamalkan ilmu yang ia dapatkan dari lembaga pendidikan, dari pergumulannya di kota-kota besar. Ia mulai menyusun sebuah rencana dan gagasan besar. Mendapatkan kepercayaan sebagai ketua bappilu PDI-P bangka Belitung. Merupakan sebuah anugerah sekaligus amanah yang harus ia emban untuk terlibat aktif dalam membesar PDI-P bersama unsur jajaran pengurus yang lainnya. Ia mulai melakukan pemetaan yang cermat dan akurat situasi dan kondisi masyarakat bangka Belitung.
Dari hasil pemetaan itu, barulah ia tuangkan dalam program kerja yang terukur dan teratur.
Ust imam juga mendirikan pondok pesantren tahfidz Qur’an di Desa tanah bawah
Bentuk tanggung jawab amanah yang ia dapatkan serta dari apa yang telah ia rencanakan. Ust Imam mulai menjalankan program-program kerja yang ia susun sendiri. Sejak pagi sampai tengah malam ia mulai melakukan pekerjaannya. Bertemu banyak orang dari seluruh lapisan masyarakat sudah menjadi kesehariannya. Banyak bertemu dengan masyarakat, ust Imam semakin mendapatkan gambaran utuh apa yang harus ia lakukan. Mendengar masukan, keluhan, kritikan sudah menjadi makanan sehari-hari. Seperti kita ketahui hari ini PDI-P telah memenangkan perolehan Pileg sejak 2019 yang lalu sampai sekarang.
Hampir seluruh ketua DPRD di pegang oleh PDI-P kecuali bangka tengah pada tahun 2024. Pada pilkada 2024 kemaren PDI-P memenangkan 5 tempat dari 8 pertarungan. Sebuah hasil yang cukup baik. Tentu ini merupakan kerja keras dari seluruh pengurus PDI-P dalam membesarkan partainya.
Saat ini, Ust Imam telah menjadi calon bupati kab. Bangka. Di mulai dengan mengambil formulir di kantor DPC PDI-P.
Apakah mampu Ust Imam mengemban amanah yang lebih besar dari masyarakat kab. Bangka nantinya?
Menelisik dari perjalanan hidup beliau sejak menamatkan sekolah tsanawiyah. Setelah itu mulai menimba ilmu di pondok pesantren gontor sampai bergumul di kerasnya situasi kota Palembang dan ibukota Jakarta. Ust Imam sudah kenyang dengan gemblengan, bimbingan serta penugasan dari tokoh-tokoh nasional. Ia sudah memiliki jaringan yang cukup kuat baik nasional maupun internasional. Kita tau sebaran alumni gontor, unsri sudah menyebar di mana-mana.Ust Imam mampu membangun hubungan baik dengan semua kalangan, baik dalam sektor lintas Agama, Etnik, Adat Istiadat, Partai Politik, Media Massa, Media Elektronik, LSM, TNI, POLRI . Menjadi kepala daerah nantinya memiliki jaringan yang cukup luas merupakan sebuah keharusan. Apalagi keselarasan dengan pemprov bangka belitung sudah selayaknya harus terbangun dengan baik.
Dari Berjualan Kue Hingga Duduk di Legislatif Perjalanan Karir Imam Wahyudi Menuju Kursi Bupati Bangka






