“Pentingnya Perubahan Nyata di Daerah, Khususnya Dalam Sektor Pariwisata dan Pemerataan Pembangunan”

Detak Kompak News

Sungailiat – Imam Wahyudi menegaskan pentingnya Mahasiswa dan Pemuda dalam perubahan nyata di daerah, khususnya dalam sektor pariwisata dan pemerataan pembangunan. Hal itu disampaikannya dalam forum diskusi publik yang dihadiri berbagai elemen Mahasiswa dan Bujang Miak.Senin (1/6/2025).

“Kita ingin perubahan. Pantai-pantai kita harus jadi destinasi unggulan, bukan terbengkalai. Pembangunan harus merata, bukan hanya fokus di pusat kota,” ujar Imam Wahyudi.

‎Menurutnya, perubahan hanya bisa dilakukan jika kepala daerah memiliki visi dan keberanian mengeksekusi program secara nyata.

‎“Hayuk, kita mulai dari kepala. Karena kepala daerah itu yang bisa eksekusi. Jangan cuma retorika, tapi kerja nyata,” tambahnya.

‎Helen Wapresma Stisipol menyampaikan “Kota ini seperti kota hantu. Pantai-pantai terabaikan. Setiap pemilihan, penilaian event pun seperti sudah ada yang menang sejak awal. Ini harus kita benahi bersama,”Ucap Helen

Duta Pariwisata Edwin: Tolong Perjuangkan Pantai-Pantai Kami

Edwin selaku Duta Pariwisata juga menyampaikan keresahannya terkait polemik di sektor pariwisata. Salah satunya soal konflik antara penambang dan nelayan di kawasan pesisir.

‎“Ada upaya dari pihak ketiga untuk memediasi, salah satunya di Pantai Parai. Tapi kami menolak aktivitas yang justru merusak. Kami menitipkan suara kami kepada bapak Imam Wahyudi sebagai wakil kami, tolong perjuangkan pantai-pantai kami,” pinta Edwin.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi kreatif dan perhatian terhadap kondisi lingkungan.

“Matras sekarang bukan milik warga Krangtatuna lagi. Sudah diambil kapal keruk. Sementara Pantai Tuber, jalannya rusak parah, pemerintah seolah tak peduli,” ucapnya.

Mahasiswa Soroti Infrastruktur dan Honorer ‎Helen, Wapresma STISIPOL, menyayangkan kurangnya sinergi antara pemerintah daerah dengan pemuda, mahasiswa, dan komunitas Bujang-Miak.

‎“Padahal pariwisata bagus bisa dongkrak ekonomi. Tapi lihat saja, banyak honorer yang pemasukannya tidak sesuai dengan keahlian Bahkan banyak yang di-PHK Jangan sampai kota ini betul-betul jadi kota hantu,” katanya.

Sementara Mukti, mahasiswa semester 4, menyoroti proyek infrastruktur mangkrak di depan Pantai Jambosam.

‎“Ada bangunan segitiga yang menghabiskan anggaran, tapi terbengkalai begitu saja. Ini pemborosan,” ucapnya singkat.

Imam Wahyudi Tambahkan Komitmen: Waktunya Kita Bangkit Bersama

Menanggapi aspirasi yang disampaikan para tokoh Muda, Imam Wahyudi menegaskan bahwa dirinya siap menjadi jembatan perubahan jika dipercaya masyarakat.

“Ini bukan soal pencitraan. Tapi soal masa depan kita. Kalau kita diam, pantai kita habis, ekonomi mati, anak muda minggat. Saya tidak mau itu terjadi. Kita harus bangkit, mulai dari hari ini, mulai dari kepala daerah yang mau dan bisa bekerja,” pungkas Imam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *