Mahasiswa Lintas Kampus Babel Bangun Dialog Kritis soal PLTN, Universitas Pertiba Jadi Ruang Diskusi Ilmiah yang Inklusif

Detak Kompak News

PANGKALPINANG – Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu ketahanan energi nasional dan transisi menuju energi bersih, ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kepulauan Bangka Belitung memanfaatkan ruang akademik untuk membedah secara ilmiah wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Forum tersebut menjadi cerminan tumbuhnya budaya berpikir kritis di kalangan generasi muda yang memilih berdialog dengan data, bukan sekadar mengikuti arus opini.
Diskusi terbuka bertajuk

“PLTN di Bangka Belitung: Jalan Menuju Kemajuan atau Ancaman Baru?” digelar di Ruang Terbuka Universitas Pertiba, Selasa (29/6/2026), dan berlangsung selama hampir tiga jam, mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.

Forum ini menghadirkan Dr. Syarifah Amelia, S.Si., M.T., Anggota DPRD Babel dari komisi III,   Diskusi dipandu oleh Ketua BPW GESID Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Suwardian Ramadhan, dengan suasana yang terbuka, dinamis, dan partisipatif.
Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Bangka Belitung, di antaranya Universitas Bangka Belitung, Universitas Pertiba, IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung, Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang, Universitas Terbuka, hingga Universitas Anak Bangsa. Hadir pula Presiden Mahasiswa beserta perwakilan organisasi kemahasiswaan sebagai representasi suara mahasiswa lintas kampus.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Pertiba menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menyediakan ruang dialog yang terbuka, independen, dan berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, kampus harus menjadi tempat lahirnya gagasan, argumentasi, dan solusi yang dibangun melalui kajian ilmiah, bukan sekadar ruang untuk menerima informasi secara pasif.
Ia mengajak mahasiswa untuk terus membangun budaya membaca, berdiskusi, meneliti, dan menguji setiap informasi dengan pendekatan ilmiah sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah maupun bangsa.
Memasuki sesi utama, Dr. Syarifah Amelia memaparkan berbagai aspek mengenai teknologi PLTN secara komprehensif, mulai dari prinsip kerja reaktor nuklir, pemanfaatannya sebagai sumber energi rendah emisi karbon, hingga standar keselamatan yang diterapkan di berbagai negara.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan PLTN bukanlah proses yang sederhana. Sebelum sebuah proyek dapat direalisasikan, diperlukan tahapan panjang yang mencakup studi kelayakan, analisis keselamatan, kajian dampak lingkungan, analisis sosial-ekonomi, kesiapan sumber daya manusia, hingga pemenuhan regulasi nasional dan standar internasional yang sangat ketat.
Menurutnya, prinsip keselamatan masyarakat dan perlindungan lingkungan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pengembangan teknologi nuklir.
Diskusi berlangsung hidup ketika mahasiswa mulai mengajukan berbagai pertanyaan kritis. Beragam isu mengemuka, mulai dari dampak terhadap ekosistem pesisir, masa depan nelayan, pengelolaan limbah radioaktif, kesiapan teknologi nasional, manfaat ekonomi daerah, hingga kesiapan Indonesia dalam mengembangkan energi nuklir secara aman dan berkelanjutan.
Seluruh pertanyaan dijawab secara argumentatif berdasarkan hasil penelitian, referensi ilmiah, serta pengalaman akademik narasumber, sehingga forum tetap berada dalam koridor diskusi yang objektif dan edukatif.
Salah satu topik yang banyak mendapat perhatian adalah berkembangnya informasi mengenai kemungkinan pembangunan PLTN di Bangka Belitung. Dalam forum tersebut dijelaskan bahwa berbagai aktivitas yang saat ini berlangsung masih berada pada tahap survei, penelitian, dan kajian ilmiah sebagai bagian dari proses awal pengambilan kebijakan. Karena itu, masyarakat diharapkan mampu membedakan antara proses kajian akademik dengan keputusan resmi pembangunan.
Sejak awal kegiatan, panitia juga menegaskan bahwa diskusi ini tidak dimaksudkan sebagai forum untuk menggalang dukungan maupun penolakan terhadap pembangunan PLTN. Sebaliknya, kegiatan dirancang sebagai ruang akademik yang netral, terbuka, dan inklusif agar mahasiswa memperoleh pemahaman yang utuh berdasarkan data, fakta, dan kajian ilmiah.
Moderator kegiatan, Suwardian Ramadhan, menilai bahwa isu energi merupakan salah satu tantangan strategis yang harus dipahami oleh generasi muda. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai insan akademik untuk mengedepankan nalar kritis, menghargai perbedaan pandangan, dan membangun argumentasi berdasarkan ilmu pengetahuan.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Pertiba atas dukungan penuh dalam memfasilitasi terselenggaranya forum lintas kampus tersebut. Kolaborasi ini dinilai menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan ruang dialog yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada penguatan literasi publik terhadap isu-isu strategis.
Red.anasn70.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *