Safari Muharram Imam Wahyudi: Menyapa dari Desa ke Desa, Merawat Tradisi dan Menguatkan Kebersamaan di Tahun Baru Islam 1448 Hijriah Menulis

Detak Kompak NEWS
Menyapa dari Desa ke Desa, Safari Muharram Imam Wahyudi: Merawat Tradisi, Meneguhkan Kebersamaan di Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Bangka, Semangat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah hadir dalam nuansa yang hangat dan penuh kebersamaan melalui rangkaian Safari Muharram yang digelar Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Imam Wahyudi, S.H., M.H..

Mengusung tema “Natak Muharram 1448 H”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial keagamaan, melainkan ruang silaturahmi yang mempertemukan masyarakat lintas desa dalam suasana penuh kekeluargaan.

Perjalanan dimulai dari Desa Kenanga, Kabupaten Bangka, kemudian berlanjut ke Kelurahan Pangkalarang, Kota Pangkalpinang, hingga Desa Nyelanding, Kabupaten Bangka Selatan.

Di setiap lokasi, Imam Wahyudi hadir menyapa warga secara langsung, berdialog, mendengarkan aspirasi masyarakat, sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai awal untuk memperkuat persaudaraan, memperkokoh nilai-nilai keagamaan, dan membangun semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat Desa Kenanga, peringatan 1 Muharram memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pergantian kalender Hijriah. Tradisi tersebut telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol persatuan, rasa syukur, dan kebersamaan yang terus dijaga.

“Setiap pergantian Tahun Baru Islam, kami selalu merayakannya. Ini sudah menjadi tradisi masyarakat Kenanga,” ujar Wandi, salah seorang warga yang turut mengikuti rangkaian kegiatan.
Menurutnya, kehadiran tokoh masyarakat dan wakil rakyat dalam perayaan Muharram memberikan semangat tersendiri bagi warga.

Selain mempererat hubungan antara masyarakat dan pemimpin, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menjaga tradisi lokal yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai keislaman.

Imam Wahyudi mengatakan, Safari Muharram merupakan bentuk ikhtiar untuk tetap dekat dengan masyarakat sekaligus merawat budaya silaturahmi yang menjadi kekuatan bangsa.

Ia meyakini bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kuatnya hubungan sosial, kepedulian, dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Menurutnya, Tahun Baru Islam menjadi momentum refleksi untuk memperbaiki diri, memperkuat persatuan, serta menumbuhkan optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Kita ingin Muharram menjadi momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah dalam cara berpikir, dalam memperkuat kepedulian sosial, dan dalam membangun kebersamaan antarwarga.

Dengan terus hadir di tengah masyarakat, kita dapat menjaga nilai gotong royong dan memperkuat persaudaraan sebagai modal utama membangun Bangka Belitung,” ujarnya.

Rangkaian Safari Muharram berlangsung dengan suasana yang sederhana namun penuh kehangatan.

Doa bersama, silaturahmi, dan interaksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut, mencerminkan bahwa nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal dapat berjalan berdampingan dalam memperkuat harmoni sosial.

Melalui Safari Muharram ini, Imam Wahyudi berharap tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus menjadi penguat persatuan.

Di tengah berbagai dinamika kehidupan, kebersamaan yang tumbuh dari desa-desa dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun Bangka Belitung yang religius, harmonis, dan berdaya saing.

Jika diinginkan, berita ini juga dapat dibuat dengan gaya yang lebih khas media nasional seperti Kompas, Tempo, atau Antara, atau dengan gaya feature human interest yang lebih mendalam.

Red anasn70

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *