Detak Kompak News
Belitung – Kunjungan kerja Komisi III DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke Kantor Pertamina Patra Niaga Sales Area Babel, Kamis (2/4/2026) pagi, berlangsung dinamis.
Dalam forum monitoring harga dan ketersediaan BBM di Pulau Belitung itu, sejumlah pertanyaan tajam disampaikan anggota dewan, mulai dari dampak krisis energi global hingga dugaan permainan distribusi di lapangan.
Ketua tim Komisi III, Taufik Rizani, membuka diskusi dengan menyoroti kondisi global. Ia mempertanyakan apakah konflik internasional saat ini berdampak langsung terhadap pasokan dan harga BBM di Babel, khususnya Belitung.
“Sejauh mana dampak konflik global terhadap ketersediaan BBM di daerah kita? Dan bagaimana dengan kebutuhan penambahan agen LPG di wilayah yang masih kosong?” tanyanya.
Menanggapi hal itu, pihak Pertamina melalui tim Sales Area Babel menjelaskan bahwa secara umum kondisi pasokan energi di Belitung masih dalam kategori aman.
“Jika dilihat di lapangan, distribusi LPG justru terbilang lancar. Program One Outlet One Village (OTOV) juga sudah berjalan, sehingga setiap desa kini memiliki pangkalan,” jelas Perwira dari tim Pertamina.
Namun, pertanyaan lanjutan datang dari anggota DPRD lainnya. Syarifah Amelia menyoroti ketahanan stok BBM yang dinilai masih perlu ditingkatkan.
“Apakah memungkinkan stok BBM di Belitung ditambah hingga minimal tujuh hari? Lalu bagaimana dampak konflik global terhadap harga BBM saat ini?” ujarnya.
Ia juga menyinggung persoalan sosial yang terjadi di lapangan, seperti dugaan pencemaran di salah satu SPBU di wilayah Kejora yang berdampak pada puluhan kepala keluarga.
“Masyarakat sampai harus menggunakan air galon untuk kebutuhan sehari-hari. Ini perlu solusi konkret,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Agung dari Pertamina menjelaskan bahwa saat ini stok BBM di Belitung berada pada kisaran 3 hingga 5 hari. Namun, ada rencana penguatan ke depan.
“Ke depan, melalui pengembangan oleh anak perusahaan Pertamina, kapasitas penyimpanan akan ditingkatkan hingga lebih dari 10 hari. Targetnya bisa terealisasi akhir tahun ini,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III, Johan Vigario, mengungkap temuan di lapangan yang cukup mengejutkan. Ia menyebutkan adanya laporan BBM di SPBU yang sudah habis bahkan sebelum tengah hari.
“Kami menemukan sebelum jam 12 siang BBM sudah habis. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada permainan antara oknum dan manajemen distribusi?” katanya.
Menanggapi hal tersebut, pihak Pertamina tidak menampik adanya potensi penyimpangan di lapangan, namun menegaskan telah melakukan berbagai upaya pengawasan.
“Kami sudah memasang CCTV di SPBU dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum. Jika ada pelanggaran, akan kami telusuri dan tindaklanjuti,” tegas Perwira.
Selain itu,Pertamina juga mengungkap temuan penggunaan LPG subsidi yang tidak tepat sasaran, seperti pada salah satu kafe yang kedapatan menggunakan hingga 19 tabung gas subsidi.
“Kami langsung arahkan penggunaan ke Bright Gas. Pengawasan akan terus kami tingkatkan agar subsidi tepat sasaran,” tambahnya.
Kesimpulan:
Dari pertemuan ini, dapat disimpulkan bahwa secara umum ketersediaan BBM dan LPG di Belitung masih dalam kondisi aman, meskipun stok BBM saat ini baru berada di kisaran 3–5 hari.DPRD Babel mendorong peningkatan kapasitas stok hingga lebih dari 7 hari serta meminta pengawasan distribusi diperketat guna mencegah dugaan penyimpangan di lapangan. Pertamina pun memastikan akan meningkatkan infrastruktur dan pengawasan, sekaligus menindaklanjuti setiap laporan masyarakat demi menjaga stabilitas energi di daerah.
Red.Anasn70.
Komisi III DPRD Babel Pantau BBM di Belitung, Pertamina Pastikan Stok Aman di Tengah Isu Krisis Energi Global

Namun, pertanyaan lanjutan datang dari anggota DPRD lainnya. Syarifah Amelia menyoroti ketahanan stok BBM yang dinilai masih perlu ditingkatkan.




