Detak Kompak News
BANGKA — Persoalan infrastruktur kembali menjadi keluhan warga di wilayah pelosok Kabupaten Bangka. Kondisi jalan tanah yang belum tersentuh pengaspalan membuat warga Dusun Puntik, Desa Mapur, harus menghadapi debu saat kemarau dan jalan licin serta berlumpur ketika hujan.
Keluhan tersebut disampaikan warga saat anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dari Komisi III, Imam Wahyudi, menyambangi warga yang tengah bersantai di salah satu warung di Dusun Puntik, Minggu (13/9/2026) pagi.
Suasana pertemuan berlangsung sederhana dan penuh keakraban. Imam Wahyudi berbincang langsung dengan sekitar lima warga, termasuk Ketua RT 2 Dusun Puntik, Supardi. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk menyerap aspirasi sekaligus mendengarkan langsung kondisi masyarakat.
Dalam dialog itu, Imam Wahyudi membuka pembicaraan dengan menanyakan kondisi kehidupan warga serta berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Salah seorang warga, Setiadi, kemudian menyampaikan keluhan mengenai kondisi jalan yang hingga kini belum diaspal.Menurutnya, kondisi tersebut sangat dirasakan masyarakat, terutama ketika musim kemarau. Jalan tanah yang dilalui kendaraan setiap hari menghasilkan debu yang mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.
Keluhan serupa disampaikan Umaryadi. Ia mengatakan persoalan tidak berhenti pada debu saat kemarau. Ketika hujan turun, kondisi jalan berubah menjadi becek dan licin sehingga membahayakan pengguna jalan.
“Kalau kemarau kami terpapar debu. Kalau hujan jalan menjadi becek dan licin. Bahkan sudah ada pengendara yang jatuh karena kondisi jalan tersebut hingga mengalami luka-luka,” ujar Umaryadi kepada Imam Wahyudi.
Ketua RT 2 Puntik, Supardi, membenarkan keluhan tersebut. Ia mengatakan kecelakaan akibat kondisi jalan yang licin bukan lagi persoalan baru bagi masyarakat setempat.
Menurut Supardi, sejumlah pengguna jalan telah mengalami kecelakaan ketika melintasi ruas jalan tersebut. Kondisi itu membuat masyarakat berharap persoalan infrastruktur segera mendapat perhatian pemerintah.Mendengar keluhan warga, Imam Wahyudi kemudian menanyakan apakah persoalan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah setempat maupun pemerintah daerah.
Ia juga mempertanyakan apakah kepala daerah, baik bupati maupun gubernur, pernah turun langsung melihat kondisi masyarakat dan jalan yang menjadi keluhan warga.
Setiadi mengatakan bupati sebelumnya memang telah datang dan mengetahui kondisi tersebut. Namun, menurutnya, harapan masyarakat untuk melihat adanya perbaikan jalan hingga kini belum terwujud.
“Bupati sudah pernah datang, tetapi janji yang disampaikan belum pernah direalisasikan,” ungkap Setiadi.
Mendengar langsung aspirasi tersebut, Imam Wahyudi menilai keluhan warga merupakan persoalan nyata yang perlu mendapat perhatian dan ditindaklanjuti melalui jalur pemerintahan.
Bagi warga Puntik, jalan bukan sekadar infrastruktur. Kondisi jalan berkaitan langsung dengan keselamatan, mobilitas, aktivitas ekonomi, serta akses masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pertemuan sederhana di warung tersebut pun menjadi ruang bagi wakil rakyat untuk mendengar suara masyarakat dari dekat.
Imam Wahyudi berupaya membangun komunikasi dan persaudaraan dengan warga sekaligus memastikan aspirasi yang disampaikan tidak berhenti sebagai percakapan, tetapi dapat diperjuangkan melalui fungsi DPRD.
Masyarakat berharap perhatian terhadap kondisi jalan Puntik tidak kembali berhenti pada kunjungan dan janji, melainkan berujung pada solusi nyata berupa peningkatan infrastruktur yang aman dan layak bagi warga.
Red.Anasn70.
Jalan Tak Kunjung Diaspal, Warga Puntik Keluhkan Debu hingga Kecelakaan, Imam Wahyudi Siap Kawal Aspirasi





