Dua Belas Tahun di Rantau, Flobamora Bangka Rawat Persaudaraan Lintas Suku dan Agama

Detak Kompak News

SUNGAILIAT — Hangat, akrab, dan penuh warna budaya. Itulah suasana perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Flobamora Kabupaten Bangka yang digelar di Pantai Cemara, Minggu (15/2/2026).

Flobamora merupakan akronim dari Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Rote—wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tanah Bangka, paguyuban ini telah 12 tahun menjadi rumah persaudaraan warga diaspora asal NTT sekaligus sahabat bagi masyarakat Melayu dan Tionghoa di Bangka Belitung.

Kehadiran anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) daerah pemilihan 6, Imam Wahyudi, menjadi momen istimewa. Ia disambut dengan tarian khas Indonesia Timur sebelum kemudian membaur bersama ratusan anggota dalam rangkaian ibadah syukur dan pentas seni.

Dalam sambutannya, Imam menegaskan bahwa kehadirannya juga mewakili ketidakhadiran Rudianto Tjen.

“Kehadiran saya di sini juga mewakili ketidakhadiran Bapak Rudianto Tjen. Beliau sangat menyesal tidak bisa hadir dalam acara HUT ke-12 Flobamora Bangka karena ada tugas lain yang tidak bisa ditinggalkan. Bagi kami dan keluarga besar PDI Perjuangan, Flobamora adalah sahabat dekat,” ujar Imam Wahyudi.

Ia menambahkan, persahabatan yang terjalin bukan hubungan sesaat, melainkan sudah lama terbangun bersama para pengurus dan anggota Flobamora, baik di Kabupaten Bangka maupun di Pangkalpinang.

“Kita sudah lama bersahabat dengan saudara Flobamora, begitu juga dengan ketua dan pendiri. Persaudaraan ini harus terus kita jaga,” katanya.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Babel itu juga menilai warga Flobamora di tujuh kabupaten/kota di Bangka Belitung konsisten menjaga prinsip kebersamaan.

“Sebagai organisasi diaspora di Bangka Belitung, anggota Flobamora menjaga persaudaraan dengan semua kalangan masyarakat. Mereka mampu membawa diri, tidak membawa sentimen primordial yang negatif, dan tetap menjaga keutuhan berbangsa,” tegasnya.

Ketua Flobamora Kabupaten Bangka, Alfonsus Abi, menyampaikan rasa bangga atas kehadiran Imam Wahyudi.

“Kami sangat bangga dengan beliau sebagai wakil rakyat. Dari sekian banyak tokoh yang kami undang, hanya beliau yang hadir. Ini bentuk nyata persahabatan,” ujarnya.

Menurut Alfonsus, Flobamora bukan sekadar organisasi, melainkan rumah besar persaudaraan bagi warga Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Rote di tanah rantau.

“Momen ini harus menguatkan ikatan kita. Kita bersatu karena kasih di rantau,” katanya.
Pendiri sekaligus penasihat Flobamora, Yohanes Lasong, mengajak seluruh anggota untuk merefleksikan perjalanan 12 tahun kebersamaan.

“Dua belas tahun berdiri di tanah rantau bukan perkara mudah. Ada pahit dan manis, jatuh dan bangkit. Tapi hari ini kita masih bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Flobamora, Ambrosius Waja, memastikan kepengurusan saat ini yang baru berjalan setahun akan menghadirkan semangat baru.

“Kita ingin ada gebrakan dan memberi keyakinan bahwa organisasi ini tidak akan jalan di tempat. Kita akan terus membangun kebersamaan dan persaudaraan,” ujarnya.

Perayaan yang diisi tarian daerah, musik, dan ramah tamah lintas generasi itu menjadi penegasan bahwa di tanah Bangka, keberagaman bukan sekadar slogan. Di usia ke-12, Flobamora Bangka meneguhkan diri sebagai simpul persaudaraan—merawat kasih, menjaga kebinekaan, dan mempererat silaturahmi dengan seluruh elemen masyarakat.

Red.anas n70

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *