Detak Kompak News
PANGKALPINANG — Di tengah suasana hangat Idulfitri 1447 Hijriah, rumah dinas Wali Kota Pangkalpinang tak sekadar menjadi lokasi silaturahmi seremonial.
Pada Selasa (24/3/2026) malam, ruang tamu itu menjelma menjadi ruang dialog terbuka—tempat warga datang bukan hanya untuk bersalaman, tetapi juga menyampaikan gagasan, keluhan, hingga harapan.
Sosok Wali Kota Pangkalpinang, Prof Saparudin atau yang akrab disapa Prof Udin, memilih pendekatan yang sederhana namun bermakna: mendengar.
Tanpa jarak protokoler yang kaku, ia menyambut warga dengan suasana santai. Tak ada sekat, tak ada formalitas berlebihan. Warga duduk berdampingan, berbincang ringan, bahkan sesekali diselingi tawa yang mencairkan suasana.
Momentum ini dimanfaatkan berbagai kalangan—dari tokoh masyarakat, profesional, hingga generasi muda—untuk menyampaikan pandangan mereka secara langsung. Bagi sebagian warga, ini adalah kesempatan langka: berbicara tanpa perantara kepada pemimpinnya.
Imam Wahyudi, yang menjadi inisiator pertemuan lintas profesi tersebut, menilai pendekatan yang ditunjukkan Prof Udin bukan sekadar simbolik, melainkan cerminan kepemimpinan yang inklusif.
“Yang saya lihat malam ini bukan hanya seorang wali kota yang menerima tamu, tetapi pemimpin yang benar-benar hadir untuk mendengar. Beliau memberi ruang yang setara bagi semua kalangan, tanpa melihat latar belakang,” ujar Imam.
Ia menambahkan, keterbukaan seperti ini menjadi energi positif bagi masyarakat untuk lebih percaya dan berani terlibat dalam pembangunan daerah.
“Ketika pemimpin membuka pintu selebar ini, masyarakat merasa dihargai. Aspirasi yang selama ini mungkin tertahan, bisa disampaikan dengan jujur. Ini bukan sekadar silaturahmi Lebaran, tapi jembatan kepercayaan antara pemerintah dan warga,” lanjutnya.
Menurut Imam, langkah kecil seperti membuka ruang dialog informal justru memiliki dampak besar dalam membangun komunikasi dua arah yang sehat.
“Harapan kami, pola seperti ini bisa terus dijaga. Karena dari ruang-ruang sederhana seperti inilah lahir ide-ide besar yang bisa memperkuat kebijakan pemerintah ke depan,” tegasnya.
Di tengah perbincangan yang mengalir, Prof Udin menegaskan prinsip yang ia pegang dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Saya terbiasa mendengar dan berdialog dengan warga. Dari situlah kita tahu apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Tanpa itu, kebijakan bisa saja tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Pernyataan tersebut terasa konkret, bukan sekadar retorika. Sebab malam itu, praktiknya berlangsung nyata— seorang kepala daerah duduk sejajar dengan warganya, mendengar tanpa menyela, dan merespons dengan empati.
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, momen ini menjadi gambaran bagaimana kepemimpinan dapat dijalankan dengan pendekatan humanis.
Di ruang tamu yang sederhana itu, hubungan antara pemerintah dan masyarakat tidak lagi berjarak — melainkan terjalin dalam percakapan yang hangat dan penuh makna.
Red. Anas N70
Di Balik Hangatnya Open House, Cara Prof Udin Menyerap Suara Warga Tanpa Sekat
Pada Selasa (24/3/2026) malam, ruang tamu itu menjelma menjadi ruang dialog terbuka—tempat warga datang bukan hanya untuk bersalaman, tetapi juga menyampaikan gagasan, keluhan, hingga harapan.




